Rabu, 10 Februari 2010 03:01
Absennya playmaker Sriwijaya FC Ponaryo Astaman tak membuat coach Rahmad Darmawan panik. Pasalnya, pelatih kelahiran Metro, Lampung, 28 November 1966 masih memiliki beberapa stok pemain yang bisa diplot pada posisi pengantur serangan. Di antaranya Tony Sucipto, Alamsyah Nasution dan AA Ngurah Wahyu.
Namun, Tony lebih berpeluang untuk masuk starting eleven saat menghadapi Persebaya Surabaya di Stadion Gelora 10 November Surabaya, hari ini (9/2), pukul 15.30 WIB. Sebab, pemain kelahiran Surabaya, 12 Februari 1986 itu, memiliki tipikal permainan yang hampir mirip dengan Ponaryo. Selain itu, pada musim kompetisi 2008-2009, Tony selalu menjadi pilihan utama tim berjuluk Laskar Wong Kito itu, untuk posisi lini tengah.
”Kami sudah siapkan Tony untuk menggantikan Ponaryo. Kondisi Tony sendiri 100 persen fit. Namun, masih harus kami pantau hingga besok pagi (hari ini, red) menjelang meeting sebelum pertandingan,” kata RD, sapaan akrabnya kepada wartawan kemarin (9/2).
Mantan pelatih Persipura Jayapura itu, berharap Tony dapat bermain maksimal dan membuat lini tengah lebih solit. Mengingat tim Bajol Ijo (julukan Persebaya) memiliki beberapa pemain tengah yang cukup potensional dengan mobilitas tinggi. Seperti Josh Maguire, Taufiq, Lucky Wahyu dan Andik Firmansyah.
“Kemampuan lini tengah sangat mempengaruhi kinerja suatu tim. Bisa jadi tim yang bisa mendominasi lini tengah dapat memenangkan pertandingan. Namun tetap koordinasi tim menjadi prioritas utama,” pungkas RD.
Sementara Tony merasa bangga, karena bisa kembali bermain pada posisi semula. Oleh karena itu, pemilik tinggi 166 cm dan berat 56 itu bertekad untuk bermain maksimal. Sekaligus menjawab semua keraguan RD sehingga dapat terus dimainkan pada pertandingan berikutnya.
“Ya, semua tergantung sama Pak Rahmad. Kami sebagai pemain hanya berkewajiban untuk berlatih dan bermain dengan maksimal. Toh kalau harus kembali menjadi pemain cadangan harus bisa diterima dengan lapang dada. Semua sudah menjadi konsekuensi pemain,” timpal Tony.
Tony sendiri, sudah tak asing dengan persepakbolaan di Surabaya. Sebab, kapten timnas U-23 itu merupakan pemain produk asli Surabaya. Meskipun dalam karier profesionalnya belum sempat membela klub asal Jatim atau Surabaya.
“Senang saja mas bisa pulang kampung. Namun, saya harus tetap bermain profesional. Yang jelas saya bertekad untuk mengantarkan Sriwijaya meraih poin maksimal atas Persebaya,” tukas Tony.
Di lain pihak defender anyar Sriwijaya FC Bobby Satria tak merasa menyesal meninggalkan Persebaya. Kendati The Green Force (julukan Persebaya) merupakan salah satu klub yang turut meroketkan kariernya. Meskipun bersama Sriwijaya saat ini, Bobby belum mendapatkan tempat utama di hati RD. Sebab, pemain asal Padang (Sumbar) itu hanya diturunkan bila pemain belakang lainnya absen. “Ya, mungkin itu sudah menjadi bagian dari strategi pelatih (RD, red). Yang jelas main ke Sriwijaya sudah menjadi keputusan saya sendiri dan itu tidak salah,” jelas Bobby. (mg42)
Namun, Tony lebih berpeluang untuk masuk starting eleven saat menghadapi Persebaya Surabaya di Stadion Gelora 10 November Surabaya, hari ini (9/2), pukul 15.30 WIB. Sebab, pemain kelahiran Surabaya, 12 Februari 1986 itu, memiliki tipikal permainan yang hampir mirip dengan Ponaryo. Selain itu, pada musim kompetisi 2008-2009, Tony selalu menjadi pilihan utama tim berjuluk Laskar Wong Kito itu, untuk posisi lini tengah.
”Kami sudah siapkan Tony untuk menggantikan Ponaryo. Kondisi Tony sendiri 100 persen fit. Namun, masih harus kami pantau hingga besok pagi (hari ini, red) menjelang meeting sebelum pertandingan,” kata RD, sapaan akrabnya kepada wartawan kemarin (9/2).
Mantan pelatih Persipura Jayapura itu, berharap Tony dapat bermain maksimal dan membuat lini tengah lebih solit. Mengingat tim Bajol Ijo (julukan Persebaya) memiliki beberapa pemain tengah yang cukup potensional dengan mobilitas tinggi. Seperti Josh Maguire, Taufiq, Lucky Wahyu dan Andik Firmansyah.
“Kemampuan lini tengah sangat mempengaruhi kinerja suatu tim. Bisa jadi tim yang bisa mendominasi lini tengah dapat memenangkan pertandingan. Namun tetap koordinasi tim menjadi prioritas utama,” pungkas RD.
Sementara Tony merasa bangga, karena bisa kembali bermain pada posisi semula. Oleh karena itu, pemilik tinggi 166 cm dan berat 56 itu bertekad untuk bermain maksimal. Sekaligus menjawab semua keraguan RD sehingga dapat terus dimainkan pada pertandingan berikutnya.
“Ya, semua tergantung sama Pak Rahmad. Kami sebagai pemain hanya berkewajiban untuk berlatih dan bermain dengan maksimal. Toh kalau harus kembali menjadi pemain cadangan harus bisa diterima dengan lapang dada. Semua sudah menjadi konsekuensi pemain,” timpal Tony.
Tony sendiri, sudah tak asing dengan persepakbolaan di Surabaya. Sebab, kapten timnas U-23 itu merupakan pemain produk asli Surabaya. Meskipun dalam karier profesionalnya belum sempat membela klub asal Jatim atau Surabaya.
“Senang saja mas bisa pulang kampung. Namun, saya harus tetap bermain profesional. Yang jelas saya bertekad untuk mengantarkan Sriwijaya meraih poin maksimal atas Persebaya,” tukas Tony.
Di lain pihak defender anyar Sriwijaya FC Bobby Satria tak merasa menyesal meninggalkan Persebaya. Kendati The Green Force (julukan Persebaya) merupakan salah satu klub yang turut meroketkan kariernya. Meskipun bersama Sriwijaya saat ini, Bobby belum mendapatkan tempat utama di hati RD. Sebab, pemain asal Padang (Sumbar) itu hanya diturunkan bila pemain belakang lainnya absen. “Ya, mungkin itu sudah menjadi bagian dari strategi pelatih (RD, red). Yang jelas main ke Sriwijaya sudah menjadi keputusan saya sendiri dan itu tidak salah,” jelas Bobby. (mg42)