PALEMBANG - PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) selaku manajemen Sriwijaya FC (SFC) menyatakan, terhitung Februari 2010, telah berhasil mengangsur utang manajemen lama (Yayasan SFC) dari semula sebesar Rp9 miliar tinggal menjadi Rp 1 miliar.
Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Utama PT SOM Dodi Reza Alex, Kamis (11/2). Dodi mengatakan, ketika PT SOM mengambil alih manajemen SFC dari Yayasan SFC pada pertengahan tahun 2008, Yayasan SFC telah meninggalkan utang lebih kurang Rp 9 miliar.
Setelah kami angsur sedikit demi sedikit, Alhamdullillah sekarang tinggal Rp1 miliar. Semua ini berkat kerja keras manajemen yang berkomitmen untuk membayar cicilan utang setiap bulan,” ujar putra sulung Alex Noerdin itu.
Utang manajemen lama yang dialihkan ke PT SOM ini, urai Dodi, meliputi pembayaran katering, sewa penginapan, tiket perjalanan, dan jasa pencucian pakaian serta gaji pegawai.
Memang berat bagi kami, tapi sebenarnya kami tidak menyangka juga akhirnya dapat berangsur-angsur mencicil utang itu, sembari membawa tim mengarungi kompetisi,” ujar anggota DPR RI asal Sumsel.
Menurutnya, pekerjaan yang berat membawa tim mengarungi tiga kompetisi sekaligus, yakni Liga Super Indonesia, Copa, dan Liga Champions Asia (LCA), di saat klub masih harus melunasi hutang dan dana bantuan APBD yang semakin sedikit.
Sebelum diambil alih PT SOM, SFC pada musim sebelumnya mendapat suntikan Rp14 miliar dari dana APBD. Tapi, sejak diambil alih PT SOM, SFC hanya mendapatkan separuhnya yakni Rp7 miliar,” ujar dia pula.
Persoalannya adalah dari mana SFC mendapatkan pemasukan dana untuk mengarungi satu musim kompetisi, paling tidak membutuhkan dana lebih kurang Rp30 miliar.
Dana bantuan APBD memang jauh dari mencukupi, tapi kami akan mencari sumber dana lain, seperti dari sponsor, sehingga dapat memaksimalkan kinerja perusahaan untuk menjual SFC melalui tiket pertandingan dan souvenir,” ujar dia pula.
Sejauh ini, sejumlah sponsor, seperti PTBA sudah mengucurkan Rp 1,5 miliar, kemudian PT Bank Sumsel Babel membantu Rp 3 miliar.
PT SOM juga akan menggalang dana dari pemerintah kabupaten/kota se-Sumsel serta beberapa BUMD dan BUMN yang ada di Sumsel.
Dodi mengaku siap memenuhi panggilan dari DPRD yang berencana menanyakan penyebab kegagalan SFC di putaran pertama musim ini yang finish hanya di peringkat 10. “Ini adalah bentuk perhatian kepada SFC, dan kami siap memberikan penjelasan tentang kondisi tim ini terutama sepanjang musim 2008/2009 dan 2009/2010,” kata anak Gubernur Sumsel.